![]() |
| Ramadan Healing | Mengelola Emosi dengan Sadar |
Ramadan Healing 1447 H – Hari 2: Mengelola Emosi dengan Sadar, Bukan Menjadi Budaknya
Ramadan 1447 H bukan hanya tentang menahan lapar.
Ia adalah ujian paling halus bagi jiwa: mampukah kita menahan reaksi?
Banyak orang mengira tantangan terbesar puasa adalah rasa haus dan lapar.
Padahal, yang paling berat sering kali adalah emosi yang muncul tanpa permisi.
Marah yang lebih cepat datang.
Kesal yang lebih sensitif.
Cemas yang tiba-tiba menguasai pikiran.
Lalu kita bertanya dengan rasa bersalah:
“Kok puasa malah emosian?”
“Kok ibadah naik, tapi hati terasa panas?”
Sebagai Trainer & Profesional Hipnoterapi di MPC Training Center dan Griya Hipnoterapi MPC, saya sering mendengar keluhan ini setiap Ramadan. Banyak orang menganggap munculnya emosi saat puasa sebagai tanda kegagalan spiritual.
Padahal, justru sebaliknya.
Ramadan: Cahaya yang Menyorot Emosi Tersembunyi
Ramadan itu seperti lampu sorot yang diarahkan ke dalam diri.
Ketika tubuh dibatasi, distraksi berkurang, dan ritme melambat, emosi yang selama ini tertimbun mulai muncul ke permukaan.
Dan di situlah pembelajaran dimulai.
Emosi bukan musuh.
Marah bukan dosa.
Kecewa bukan kelemahan.
Cemas bukan tanda iman menurun.
Emosi adalah sinyal.
Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu di dalam diri yang perlu diperhatikan.
Masalahnya bukan pada emosinya.
Masalah muncul ketika emosi tidak dipahami dan tidak dikelola.
Dipendam atau Diledakkan: Dua Cara yang Sama-sama Melelahkan
Sebagian orang memilih memendam.
Tersenyum di luar, tetapi sesak di dalam.
Sebagian lagi meledakkan.
Melampiaskan pada pasangan, anak, atau rekan kerja—lalu menyesal setelahnya.
Dipendam, emosi menjadi luka batin.
Diledakkan, emosi merusak hubungan.
Keduanya sama-sama melelahkan.
Dalam perspektif psikologi dan hipnoterapi, emosi yang ditekan tidak pernah hilang. Ia hanya turun ke bawah sadar. Dan apa yang tersimpan di bawah sadar, suatu hari akan mencari jalan keluar—sering kali dalam bentuk ledakan yang tidak terkendali.
Mind Detox Hari 2: Mengelola Emosi dengan Sadar
Dalam perjalanan Ramadan Healing: 30 Hari Reset Pikiran & Hati, hari kedua adalah latihan penting:
mengelola emosi dengan sadar.
Bukan menekan.
Bukan meluapkan secara merusak.
Tetapi menyadari, menerima, dan mengarahkan.
Embuhisme mengingatkan dengan sederhana namun dalam:
Emosi yang diterima akan tenang, emosi yang ditolak akan semakin keras.
Coba perhatikan.
Saat Anda berkata, “Saya tidak boleh marah,” justru marah itu membesar.
Namun ketika Anda berkata, “Saya sedang marah, dan itu manusiawi,” intensitasnya mulai turun.
Kesadaran adalah jeda.
Dan jeda adalah kekuatan.
Puasa Reaksi: Latihan Kedewasaan Emosional
Ramadan melatih kita menunda makan.
Mengapa tidak sekalian melatih diri menunda reaksi?
Sebelum marah → tarik napas.
Sebelum membalas pesan dengan nada tinggi → berhenti 10 detik.
Sebelum berbicara → tanyakan pada hati:
“Apakah ini akan memperbaiki atau justru melukai?”
Puasa sejati bukan hanya menahan makan dan minum.
Ia menahan reaksi yang bisa merusak.
Spiritual tapi Matang Emosi
Banyak orang rajin ibadah, tetapi belum tentu matang secara emosi.
Ramadan adalah kesempatan menyelaraskan keduanya.
Hari ini bukan tentang menjadi tanpa emosi.
Itu mustahil. Kita manusia.
Hari ini tentang belajar bersahabat dengan emosi.
Mengatakan:
“Saya marah, tapi saya tidak akan menjadi budak kemarahan.”
“Saya kecewa, tapi saya tidak akan merusak diri karena kecewa.”
“Saya cemas, tapi saya tetap memilih tenang.”
Ramadan 1447 H bisa menjadi titik balik.
Bukan karena kita lebih keras menahan diri,
tetapi karena kita lebih lembut memahami diri.
Dan mungkin, kedewasaan spiritual bukan diukur dari seberapa lama kita menahan lapar,
tetapi dari seberapa bijak kita menahan reaksi.
Sisanya…
Mbuh priben carane, kersane Gusti Allah.
Yang penting hari ini kita belajar satu hal:
mengelola emosi dengan sadar.
Karena dari sana, ketenangan bukan lagi teori—
tetapi pengalaman.
Positif, Sehat dan Bahagia.
Brebes, 20 Februari 2026
Aziz Amin | Wong Embuh
Trainer & Professional Hypnotherapist









